Sponsor

KORAPTOR (Maling ketahuan, namun ringan hukuman)




Siapa yang sudah merasa muak dan jijik ketika melihat berita di Indonesia penuh dengan pencuri elite yang diberi nama “Koruptor”?
Negeri yang kaya ini dari dulu selalu dirugikan oleh orang-orang miskin yang “gila” harta tersebut.
Negeri yang kaya ini juga selalu meringankan hukuman-hukuman yang diterima koruptor

Wahai negeri yang sudah berusia 72 tahun! Kau sudah tidak lagi muda! Kau sudah berpengalaman! Sudah 7 kepala negara yang mendudukimu! Tidakkah kau malu jika kau masih menjadi salah satu negara terkorup!

Wahai negeri yang kaya! Memang benar kau kaya! Memang benar kau sudah merdeka! Tapi ingat! Kau hanya merdeka dari penjajahan fisik saja!

Sayangnya kau masih BELUM MERDEKA dari koruptor! BELUM MERDEKA dari kemiskinan! BELUM MERDEKA dari permasalahan-permasalahan sepele yang seharusnya dengan usia 72 tahun masalah itu dapat diselesaikan atau diminimalisir!

Wahai negeri yang dulunya dijajah selama berabad-abad! Ketahuilah! Kau MASIH DIJAJAH! Tapi bukan dari fisik, namun dari bangsamu sendiri!

Saya sebenarnya sudah sangat MUAK dengan koruptor, ingin sekali rasanya bertemu dengan para “Tikus” itu lalu menghujatnya! Ingin sekali rasanya menyeret kepala mereka lalu menyuruh mereka lihat betapa banyak orang-orang yang miskin harta!

Sedangkan mereka kerja di tempat berAC, memakai pakaian rapi, digaji pula, tapi masih korupsi! Apakah kau masih berbelas kasihan kepada para “Tikus” itu?! Apakah masih bisa mereka disebut sebagai “Manusia”?! Apakah kau masih ingin meringankan hukuman untuk para “Tikus fakir” itu?!

Wahai manusia-manusia yang berakal! Keluarlah dari rumahmu! Keluarlah dari lingkunganmu! Dan lihatlah betapa banyak saudara-saudara kita yang masih membutuhkan bantuan kita! Masih banyak sang Ayah yang rela makan sedikit demi kelangsungan hidup keluarganya! Masih banyak sang Ibu yang rela pura-pura masak untuk menjaga hati putra-putrinya!

Dan sekali lagi wahai manusia-manusia berakal! Sedangkan para “Tikus fakir” tersebut hidup bergelimangan harta, mereka memakai jas rapi yang belum mungkin pernah dipakai oleh orang-orang yang berekonomi menengah kebawah! Mereka memakai mobil-mobil yang dibeli oleh duit-duit orang yang masih kelaparan! Apakah si “Tikus fakir” tersebut sampai makan sedikit untuk kelangsungan hidup anak-anaknya?! Apakah si “Tikus fakir” tersebut sampai pura-pura masak demi menjaga hati putra-putrinya?! TIDAK! WAHAI MANUSIA-MANUSIA BERAKAL SEHAT!

Lalu kenapa para “Tikus fakir” tersebut mendapatkan hukuman yang JAUH LEBIH RINGAN dibandingkan maling ayam atau maling lampu yang mungkin maling ayam atau maling lampu tersebut terpaksa maling DEMI KELANGSUNGAN HIDUP KELUARGANYA! Memang benar, hukum yang dibuat manusia itu TIDAK AKAN PERNAH 100% adil!

Dari korupsi bank hingga yang paling heboh sekarang ini E-KTP, tidak ada yang lebih menjijikan dibanding kebodohan orang-orang yang sengaja menyembunyikan si “Tikus fakir” itu
Saya pribadi tidak akan pernah takut dengan si “Tikus fakir” itu! Bahkan saya pribadi berniat MEMPERMALUKAN mereka!



Kenapa korupsi merajalela di Indonesia? Apabila jawabannya “Tidak tahu jika korupsi itu tidak dibenarkan” itu lucu. Saya adalah seorang WNI yang hanya bersekolah hingga kelas 11, tapi saya TAHU DENGAN JELAS bahwa korupsi itu TIDAK DIBENARKAN!
Jadi apa gunanya sekolah, ijazah, dan nilai sekolah jika berujung menjadi manusia hina seperti “Tikus fakir” itu?!

BUKAN! Bukan sekolah yang salah, sekolah adalah tempat baik karena disana banyak ilmu yang didapat, tapi salahkanlah si “Tikus fakir” itu! Wahai sahabat. Dimana ada masalah, disitu harus ada yang disalahkan!

Saya merasa benar ketika saya menjuluki mereka “Tikus hina” atau “Tikus fakir”, karena memang kebenarannya seperti itu, mereka “Fakir” dan mereka “Hina”
Seperti layaknya kita membuang sampah, apakah perbuatan membuang sampah itu dilarang? Tentu tidak! ketika kita membuang sampah pada tempatnya itu dikatakan benar,  tapi ketika kita membuang sampah tidak pada tempatnya itu baru dikatakan salah dan dilarang
Jadi saya sama sekali tidak merasa bersalah ketika menjuluki mereka sebagai “Tikus fakir”

Jadi, apakah kita akan tetap diam dengan ini semua? Ya! Kita harus tetap diam jika kita ingin menjadi hina seperti mereka, tapi jiwa-jiwa pemberani dan pembela negeri seperti Teuku Umar, Soekarno, Hatta, dan pahlawan lainnya TIDAK AKAN DIAM ketika negeri yang ia cintai dinodai!

JANGAN PERNAH TAKUT MENGHADAPI ORANG HINA! Mari kita laporkan mereka! Dan jangan lupa PERMALUKAN mereka!
Jangan takut! Ada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang ditunjukkan untuk melindungi saksi atau korban yang mungkin kita menjadi incaran si "Tikus fakir" itu. Tapi tenang sahabat! Allah selalu bersama orang-orang yang benar
Untuk link website LPSK ada di sini


Kata-kata singkat seperti ini tidak akan cukup untuk mendeskripsikan betapa hinanya koruptor. Wahai penegak hukum yang sudah bersekolah bertahun-tahun! Pertanyaannya kembali terulang “Masihkah kalian berbelas kasihan kepada orang-orang hina itu?”


Sumber: Foto dari Google, tulisan dari hati yang paling dalam

Comments

  1. Bukan hanya sebuah karya, tulisan ini penuh mamfaat dan peringatan. Terimakasih Mastah.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts

Beli sekarang! Ngumpung murah!